Jumat, 09 September 2011

7 days in Cairo

 Hari pertama: 22 juli, jam 20.00 WE.
Saat itu aku masih murid kelas 4 SD, 15 tahun lalu, setiap malam aku selalu menemani ayahku nonton “Dunia Dalam Berita”, setiap kali ada “Prakiraan Cuaca” dan kota Cairo disebut, ayahku selalu bilang, “Kamu nanti harus belajar di sana”. Padahal cita-citaku sejak itu sampai aku terdaftar sebagai santri kelas 5 di Gontor adalah meneruskan tradisi keluargaku, menjadi ABRI, seperti kakekku, kakak-kakakku, paman-pamanku, dan sepupu-sepupuku. Tapi entahlah kenapa Cairo itu selalu ada di kepala ayahku.
Karena sebuah kecelakaan, cita-citaku menjadi ABRI pupus sudah, akhirnya cita-cita alternatif yang pernah hadir dalam benakku untuk menjadi seorang pakar Hukum kembali lagi. Tapi itu juga “seems to be no hope” ketika orangtuaku ingin aku belajar ke Timur-Tengah, lagi-lagi Cairo pilihannya. Aku tidak pernah tahu Cairo itu seperti apa, yang aku tahu di sana orang-orang berbicara bahasa Arab dan menghafal Quran. Aku juga nggak paham besok aku mau jadi apa kalau aku belajar di sana. Jadi ustad? Penceramah? Jadi Tengku yang punya Dayah? Owh…tidak, sama sekali hal itu tidak terbesit dalam benakku, itu yang terbayang di benakku tentang cita-cita orang tuaku untuk menyekolahkanku ke Cairo. Tapi, hari ini aku “terdampar” di kota cinta, Damascus.

Tgl 22 juli 2011, tepatnya jam 16.10 waktu Cairo, aku mendarat di Cairo International Airport. Akhirnya aku bisa merealisasikan setengah “keinginan” orangtuaku, pergi ke Cairo, meskipun bukan untuk kuliah di sana. Terus terang, saat pesawat Egypt air itu landing, aku sempat mecubit pipiku, kukira aku sedang bermimpi, ternyata tidak, ini kenyataan, benar aku akan menginjak negeri Musa dan Yusuf.
Setelah 2 jam menunggu proses, aku bisa keluar dengan selamat, berkat bantuan seorang pagawai kharijiyah Mesir, kalau nggak salah namanya Muhammad Hafez. Di sana aku dijemput dua orang yang aku hampir tidak mengenali mereka, mungkin karena sudah lama nggak ketemu, Delta sama Yahya. Aku tidak berani terlalu akrab sama mereka, meskipun aku tahu mereka itu anak-anak IKPM, sampai akhirnya salah satunya mengatakan “ust, ane masih ingat dulu antum menggunduli kita waktu masih di Koordinator kelas 5”. Aku heran sambil senyum, “oya? Emang ane pernah menggunduli anak-anak dulu,ya?”. Semuanya tertawa, mengingat memori masa lalu. Benar saja, ketika ku review lagi, aku pernah menggunduli mereka karena pelanggaran.
Kita shalat di mushalla airport dan kemudian keluar. Si Delta menelpon seorang teman minta dijemput, aku tidak tahu siapa itu. Beberapa menit kita menunggu, tiba-tiba dari belakang ada seorang berlari dan langsung memelukku, sambil mengatakan “kholas qodim jiddan jell nggak ketemu nte”. Akupun mengatakan hal yang sama, sahabat karibku selama 5 tahun di Gontor, dan selama 5 tahun pula kami berpisah tidak pernah bertemu. Sahabatku ini pinter, cerdas, cool, baik pastinya, tapi ghoma!ke-ghomaan dia itu terkenal dimana-mana, semua orang yang kenal dia tahu kalau dia itu mengumpulkan semua sifat yang membuat kita tidak mungkin bisa “bermusuhan” sama dia, kalaupun ada orang yang “bermusuhan” dengan dia, aku yakin orang tersebut perlu dipertanyakan, nama sobatku itu Sayyid Zuhdi Abdul Ghani.
Kamipun naik mobil, aku lupa persis namanya. Supirnya juga salah satu kawanku dan se-marhalah di Gontor dulu, namanya Kemas Afdahlul Fitrah. Sepanjang jalan dari airport menuju kota, kami bercerita “ngawur-ngawur”, mereview kenangan-kenangan indah selama nyantri di Gontor 5 tahun lalu.
Cairo dan Damascus dua kota peradaban lama yang berbeda, kalau boleh aku pakai komentar Yusron saat duduk di Bawabah 2 sambil “ngasob”, dia bilang “Perpaduan positif dan negatif berjalan beriringan di Cairo, dan itu tidak ada di Damascus”.
Saat itu, Jamil temanku juga menelpon dan minta agar aku dan kawan-kawan diantarkan ke rumah dia, karena disana aku akan menginap sebelum besoknya check-in di Wisma Nusantara. Sebelum ke sana, kita cari makan malam dulu, sudah jam 21.30. ketika si Kemas parkir di depan sebuah mat’am Indonesia, aku melihat sosok yang kayaknya tidak asing, tapi aku ragu. Aku kasih tau Yusron, rupanya dia langsung berteriak, “woi..Irek…konsuli…”. benar, aku tidak salah, sosok itu tidak asing lagi bagiku, dia itu sosok “bapak”, “teman”, “pemimpin” dan “penghibur” yang pasti dikenal seluruh anak Blitza Gontor 2005 yang berjumlah 945 siswa, namanya Fuad Hidayat.
Ketika melihat kami, Fuad lari berhamburan menyebrang jalan menyapa kami, dia langsung menyuruh Sayyid untuk membawa kami ke rumah dia, tidak boleh ke rumah Jamil. Akhirnya kami mendarat di rumah Fuad. Sebelumnya kita mampir di mat’am La Tansa, semua orang tau mat’am itu. Aku dihidangkan kerupuk, Ayam panggang dan sambal pedas, katanya itu sambal paling “maknyos” se-Cairo, aku mengiyakan saja, karena memang enak, apalagi menu begitu jarang ada di Damascus. Nggak ada mat’am Indonesia di Damascus, kita sudah menjadi orang Arab dengan menyantap makanan mereka setiap hari.
Saat itu aku melihat beberapa wajah, yang kukira sudah “hilang” dari dunia, ternyata mereka di Cairo, manjadi mahasiswa Al Azhar, icon “pabrik” ulama di dunia Islam. Aku juga berharap mereka bisa menjadi Azhari-azhari yang esok hari bisa menerangi Indonesia, seperti syeikh Qardhawy, syeikh Zuhaily, syeikh Buty, syeikh Ali Gum’ah, syeikh Ajaj Khatib, syeikh Abdul Kareem Zaidan dan seabrek pewaris nabi yang lain yang pernah mengenyam pendidikan dan merasakan manisnya ilmu di Al Azhar itu. Kadang-kadang aku mengatakan, “Kenapa aku tidak menjadi bagian dari mereka, betapa beruntungnya mereka bisa disini, tapi aku harus puas dan mensyukuri apa yang kumiliki saat ini”. Saat itu aku tau betapa dalam makna kata-kata yang kudengar tiap malam “Kamu nanti harus belajar di sana”. Tapi sayangnya, ayahku tidak sempat melihatku membawa ijazah apapun, kecuali ijazah SD dan SMP selama beberapa minggu.
Malam itu, hanya sempat meletakkan koper di kamar, rasa kangen pengen bertemu teman-teman seperjuangan di Gontor dulu membuat rasa ngantuk dan capek hilang, akhirnya aku dan teman-teman keluar “ngasob” di ujung jalan. Kebiasan “ngasob” begini tidak pernah kudapatkan di Damascus, meskipun minumannya sama saja, tetapi suasananya jauh berbeda.
Ngasob itu berasal dari kata Qasabussukkar, tebu. Di tempat itu banyak juice-juice lain selain air tebu, entah kenapa diwakili penamaanya oleh tebu saja. Selama 7 hari, setiap kali ngasob aku hanya memesan air tebu dan juice mangga, karena itu tidak aku dapatkan di Damascus, kalau juice lainnya sama saja, aku juga sering “mojok” di Sahah Shamdim sama teman-teman.
Sambil menghirup juice mangga, aku teringat cerita ustaz Hafiz Zaid waktu di Gontor dulu, “Di Cairo itu, juice murah, tidak hanya murah, tetapi murni dari buah-buahan, nggak dicampur dengan cairan lain, buah diblender, ya itu yang kita minum, tanpa ada campuran air, semuanya serba alami dan segar”. Kini kata-kata beliau terbukti, nyata.
Banyak hal lain yang ingin kulakukan di Cairo selain Cuma ngasob tiap hari, tapi ada yang terlaksanakan dan ada juga yang tidak, yang pasti ada yang “tertinggal” di Cairo, yang membuat aku harus kembali kesana lagi suatu hari..Insyallah.

Hari kedua: 23 juli, jam 09.00 WE.
Dulu ada seorang Alumni Gontor yang kuliah di Perancis mengatakan dia menangis saat menghadiri perkumpulan Alumni Gontor di secretariat IKPM cabang Belanda, dia mendengar hymne oh Pondokku setelah puluhan tahun lalu dia ikut melantunkan hymne sakti itu di aula BPPM Gontor, yang di depannya duduk dengan penuh wibawa dua Kyai besar, pahlawan yang jarang disebut, tetapi melahirkan ribuan generasi, Kyai Ahmad Sahal dan Kyai Imam Zarkasyi. Tidak berlebihan kalau aku mengatakan dua bersaudara itu adalah Bapak Pendidikan Modern Indonesia.
Pagi, 23 juli 2011, di gedung Bhinneka Tunggal Ika, KBRI Cairo, aku mendengarkan kembali lantunan hymne oh Pondokku setelah hampir 5 tahun aku tidak pernah mendengarnya. Saat hymne itu dilantunkan bersama, aku merasa berada di gedung BPPM yang penuh sejarah, aku merasa kembali menjadi santri di Pondok itu, alunan hymne yang penuh hikmat itu membuat mataku berkaca-kaca. Tempat dimana aku menghabiskan waktu 5 tahun, tempat yang telah mendidikku menjadi orang yang tahu arti hidup, kami diajarkan keberanian hidup dan menghidupkan, kata-kata Kyai Sahal yang selalu diingat santri-santrinya selalu terngiang di telingaku, “berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja!”. Filsafat hidup sederhana tetapi membekas, memberikan setruman kuat untuk para Alumninya. Awalnya aku menyesal kenapa tidak meneruskan sekolah SMA-ku, kenapa ayahku memaksaku sekolah di sebuah kampung yang jauh itu, kampong damai, Darussalam…tetapi hari ini aku lebih menyesal lagi kalau aku tidak pernah menghabiskan masa remajaku di Gontor itu.
Acara ini adalah tujuan utama kenapa aku ada di Cairo, jadi aku di Cairo bukan untuk ngasob, tapi menghadiri Symposium Internasional IKPM Luar Negeri. Ikpm cabang Cairo kembali mendapat kehormatan atas kegiatan dan improvisasi yang selalu mereka lakukan. Ternyata “team work” yang dulu diajarkan di kamar, di kelas, di POT, di firqoh-firqoh, di konsulat-konsulat, ternyata hasilnya akan terasa ketika kami berada di luar. Dulu semua kegiatan itu dipaksa, kita lakukan setengah hati sambil gondok, ternyata filsafat “man jadda wajada”, “man sara ala darbi washala”,”iza shadaqal azmu wadhaha sabilu” yang dulu kita ucapkan dan ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari, benar-benar mendarah-daging dalam diri setiap Alumni Gontor. Kata ustaz Hasan Sahal setiap kali khutbatul arsy, “apa yang kamu lihat, kamu dengar dan kamu lakukan adalah pendidikan, itulah cara Gontor mengajarkan filsafat hidup untuk santri-santrinya”.
Sebenarnya, acara ini ajang silaturahim dengan sesama Alumni, dan khususnya untuk me-renew kembali filasafat hidup dan “tasji’ maut” dari bapak Kyai pimpinan Pondok yang telah lama agak luntur. Baru dengar ustaz Syukri bilang “Assalamualaikum” saja, rasa sudah kayak kena siram air dingin di tengah padang pasir, belum lagi kalau duduk sejam mendengarkan wejangan beliau. Semoga Allah memanjangkan umur para guruku itu semua, dan menjaga mereka di dunia dan akhirat. Ustaz Hasan yang mempunyai ciri khas tersendiri tidak kelihatan, hanya ada ustaz Akrim Mariyat dan ustaz Syukry yang ditemani oleh ustaz Hamid Fahmy, ustaz Adnin Armaz, ustaz Hidayatullah dan ustaz Kafrawi Ridwan.
Seharian mendapat setruman dari para Kyai, mulai dari ustaz Syukri sampai ustaz Akrim. Semangat yang dulu pernah membuatku dan teman-teman bertahan di Pondok, meskipun sama-sekali tidak ada “enaknya”, semua sakit dan susah rasanya indah saat itu. Taujihat wal irsaydat dari beliau pada hari ini, cukup untuk menyemangati diri selama 5 tahun ke depan.
Kamu tidak tahu bagaimana hal-hal kecil, ucapan kecil, dan tulisan kecil yang ada di Gontor itu mampu memberi empowerment untuk setiap santri. Hal itu mulai dari tulisan besar di gerbang “Ke Gontor apa yang kamu cari”, sampai  tulisan kecil di kantin “Anda belanja, anda beramal”. Ucapan kecil penuh hikmah yang diucapkan Kyai mampu memberikan setruman untuk para santri, setiap santri mengambil dan mengamalkan kata-kata itu dan menjadikan itu motto hidupnya. Tidak salah kalau almarhum Kyai Imam Badri bilang dulu, “Mutiara diantara mutiara tidak ketahuan mana yang bagus, tapi dia akan mengeluarkan cahayanya ketika dia dilemparkan ke dalam lumpur”.
Kata-kata hikmah seperti yang dikatakan Kyai Hasan dan Kyai Syukry tidak perlu dihafal, karena tidak mungkin. Kata-kata hikmah seperti itu hanya keluar dari hati yang bersih yang selalu bertafakkur dan mentadabburi kehidupan. Ilmun yuntafa’u bihi….yang diajarkan Kyai Zarkasyi, Kyai Sahal, dan Fannani 85 tahun lalu, saat ini sudah berbuah, dan aku yakin mereka sedang menikmati hasil itu di alam sana.
“Yang penting kalian berusaha, hasilnya nggak usah dipikirkan, itu urusan Allah”, itu kata-kata ustaz Akrim saat menceritakan tentang profil IKPM Pusat. Kita diajarkan bagaimana bekerja keras, dan tidak memaksakan hasilnya kepada Allah, tapi kita tawakkal dan menerima apa yang allah berikan, meskipun tidak sama seperti yang kita harapkan, Allah tidak memberikan apa yang kita mau, tapi Allah meberikan apa yang kita butuh. “bondo, bahu, piker, lek perlu sak nyawane pisan!”. Gayanya yang calm, cool, humoris, membuat pak Akrim selalu kayak anak muda.
Sistim pendidikan pedagogi dan andragogi yang diapakai di Indonesia bertahun-tahun, perlu ada improvisasi dan reformasi. Karena kita mendidik manusia, bukan mendidik robot. Ada hidden curriculum yang jarang dipakai, mengajarkan moral, tanggungjawab, dan character building tidak cukup dengan membaca ribuan buku, tapi harus dengan learning by doing. Itu yang tidak ada di sekolah-sekolah biasa. Maka jangan aneh kalau banyak orang-orang berpendidikan (pendidikan Agama sekalipun) tidak bermoral. Kalau di DEPAG banyak “tanda Tanya” dalam administrasi keuangannya, maka siapa lagi yang bisa diharapkan!
Salah satu character building yang diajarkan Gontor adalah “never say die” dalam hal apapun, karena “iza shadaqal azmu wadhaha sabilu”. Ada seorang Alumni Gontor yang mengkritik dan bahkan mencaci Gontor, karena ijazahnya telah disodorkan kemana-mana, tapi tidak diterima. Itu 10 tahun lalu, hari ini dia telah menjadi seorang akuntan di sebuah perusahaan swasta, dia diterima disItu karena keuletan dan jiwa “never say die”nya. Alumni itu tidak sadar, dari mana dia belajar jiwa “never say die”, Gontorlah yang mengajarinya itu, tetapi dia hanya melihat satu sisi. Dia lupa kalau jiwa “never saya die” itu dia pelajari di rayon, di konsulat, di firqoh, di POT dan di jaryu sobah!
5 tahun aku di Gontor, aku hanya mampu memahami menejemen santri saja, masih ada lagi menejemen guru, pegawai, institusi, dan badan-badan usaha ekonomi. Maka jangan harap bisa “berbicara” tentang Gontor kalau Cuma setahun atau dua tahun disana, apalagi Cuma pernah berkunjung saja, lebih-lebih lagi kalau Cuma mendengar kata orang!
Acara berakhir jam 17.00, dan diteruskan dengan “perumusan forum SI-IKPM”, setiap perwakilan dari IKPM cabang luat negeri mempresentasikan kegiatan dan informasi pendidikan di Negara masing-masing. Perumusan gaya Pondok, sambil yahanu-yahanu cukup membuat suasana cair, capek seharian nggak terasa. Pasti tidak akan terasa, karena kita duduk bersama ayahanda tercinta, dan bersama saudara-saudara seperjuangan. Meskipun Kita berbeda, tapi kita selalu satu.


                     Kalau dulu seorang Tabiin menyikapi setiap kata-kata Sahabat Nabi dengan mengatakan “Aku yakin mereka lebih tahu apa yang terbaik buatku daripada diriku sendiri”, hal senada juga sepatutnya dikatakan seorang anak kepada orang tuanya, tidak ada orang tua yang ingin anaknya sengsara, aku kira mematuhi kata orang tua jauh lebih baik daripada melanggarnya meskipun kamu punya 1001 alasan yang lebih rasional. Itu yang kurasakan saat ku ikuti semua kemauan orang tuaku, satu lagi yang belum terlaksanakan, menikah dengan wanita pilihan orang tuaku…hahahahahaha…
Hari ke-tigaku di Cairo masih bersama panitia dan para tamu, hari ini dapat pelatihan “Penulisan karya Ilmiah dan Jurnalistik” bersama ustaz Dr.Hamid Fahmy Zarkasy, M.Phil. dan ustaz Adnin Armas, MA. Dunia tulis menulis cukup menarik ketika dibicarakan oleh para budak pena seperti mereka, tapi aku tetap aku yang tidak suka menulis dan tidak tau mau menulis apa. Tapi aku sadar akan satu hal saat mendengarkan paparan mereka, di zaman yang serba modern dan cepat seperti ini, orang-orang tidak punya waktu untuk duduk mendengarkan ceramah dan ide-ide kita seperti zaman dahulu, sekarang orang lebih cendrung untuk menyantap itu dari tulisan dan dari media-media cetak, jadi jangan harap kamu bisa membuat perubahan dengan segudang ide reformis yang ada dalam kepala kamu kalau kamu tidak bisa menulis. Itu yang jarang dipahami mahasiswa Timur-Tengah.
Saat itu, ustaz Syukri mengatakan, “Kekurangan selalu ada, tapi kita harus tetap maju dan berkembang”, kita tidak usah menunggu menjadi Dewa yang notabenenya sempurna baru kita berbuat, kita selalu memiliki kekurangan, tetapi jangan sampai kekurangan itu merusak semua, tapi jangan sampai juga kita terlena dengan kekurangan itu dan tidak mau berimprovisasi.
Malamnya kita kumpul di auditorium Shalah Kamil dekat salah satu kampus Azhar, ada seminar tentang “Kenegaraan”. Seperti biasa aku dan utusan lain datang terlambat, maunya aku tidak mau masuk, karena jujar saja selain menulis yang ilmiah-ilmiah, diskusi dan seminar termasuk dalam list kegiatan yang paling tidak kusukai, kalau tidak mau kukatakan paling ku benci. Aku datang terlambat dan duduk di belakang bersama beberapa temanku dari IKPM Cairo.
Ku buka tasku, kuraba-raba, tapi tidak ada buku apapun yang terbawa, paling tidak aku nggak bengong-bengong banget di aula itu kalau ada buku di tangan, tapi ternyata tidak ada. Akhirnya, dengan terpaksa ku pinjam HP si Arwani, chatingan deh akhirnya.
Hari ini hari ke empat, acara sudah habis, hari ini bisa istirahat sampai sore, dari pagi sampai sore aku hanya di wisma nusantara, makan, tidur, ngenet dan seterusnya. Menunggu malam, saatnya check out dari wisma, karena panitia SI IKPM sudah tidak menanggung penginapan kita lagi.
Magrib Sayyid datang menjemput, aku dan utusan lain berpencar ke rumah teman-teman. Aku, Yusron dan Evi pindah ke rumah sayyid, yang lain aku tidak tahu. Sebentar istirahat di rumah Sayyid, kita keluar cari makan, itu pertama kali aku tau suuq sayyarah, disana ada tempat ngasob paling terkenal di Nasr City.
Antara Damascus dan Cairo ada perbedaan jauh, saat aku duduk ngasob untuk pertama kalinya di suuq sayyarah, aku berfikir tentang perbedaan dua kota itu, perbedaan gaya hidup penghuninya, dan tantangan yang dihadapi mahasiswa di masing-masing kota itu. Sekali lagi aku memakia kata-kata yusron, “positif dan negatif berjalan beriringan di Cairo”.
Aku tidak bermaksud membandingkan dua kota itu, tetapi naluri manusia setiap kali dia berpindah tempat, dia pasti akan selalu merasakan perbedaan yang menjadi objeknya untuk mengkomparasi antara satu dengan yang lain, itulah yang kurasakan, setelah 4 tahun 6 bulan 14 hari aku di Damascus, tiba-tiba aku harus berada di Cairo, dan merasakan hal-hal baru, melihat hal-hal baru. Dua kota itu banyak kesamaan, salah satu yang paling mencolok adalah keduanya tempat tujuan para mahasiswa Indonesia.
Kota sebesar dan sepadat Cairo dengan tingkat mobilitas yang tinggi, jalan-jalannya tidak mempunyai traffic light! Kalau tanpa traffic light lalu lintas rapi, itu sebuah kebanggaan buat kita semua, tetapi ini berbeda. Akhirnya macet tidak bisa dihindari, lalu lintas yang kacau begitu membuatku malas keluar rumah, karena aku yakin bakalan tersiksa dengan macet yang sangat membosankan dan panas yang begitu menyengat. Hal ini berbeda dengan Damascus, jalan-jalan rapi, lalu lintasnya teratur, ada polisi dan ada traffic light di jalan.
Hampir semua pelajar yang menempuh studinya di Cairo dan Damascus adalah alumni Pesantren, kamu tau sendiri kehidupan pesantren, teratur, banyak peraturan, terpisah antara laki-laki dan perempuan, dan seabrek lainnya hal-hal yang kamu dapatkan disana, dan itu berbeda jauh dengan anak-anak yang sekolah di SMU. Jadi, kalau mereka lepas dari itu semua, bisa kamu bayangkan apa yang terjadi bila mereka tidak bisa menjaga diri.
Tantangan santri-santri yang kuliah di Cairo jauh lebih besar dari apa yang dihadapi santri-santri di Damascus. Damascus jeuh lebih kecil dari Cairo, tempat wisata yang ada di Damascus jauh lebih sedikit dibandingkan dengan apa yang ada di Damascus, dua hal itu sudah cukup untuk menggoda santri dan mengalihkan perhatiannya dari tujuan utamanya.
Jumlah mahasiswa di Damascus jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah mahasiswa di Cairo, ini juga sangat mempengaruhi pergaulan, kemana-mana kita berjalan ada orang Indonesia, akhirnya porsi untuk praktek bahasa Arab cuma dengan tukang baqolah atau sopir, itu juga bahasa amiyyah, pergesekan dengan non-Indonesia sangat jarang, apalagi ada sebagian anak yang sukanya duduk di rumah, dan jarang masuk kuliah, akhirnya bahasa Arabnya sama saja dengan bahasanya ketika dulu di Pondok.
Tapi sisi positif dari jumlah mahasiswa yang banyak adalah tumbuhnya ide-ide “nakal” yang membangun, baik itu di organisasi dan kemasyarakatan. Dan pastinya persaingan akan lebih ketat. Sebut saja misalnya di Fulan bulan ini berhasil menerbitkan sebuah karya, berapa orang yang akan mengatakan “wah, dia dulu bareng aku ke Cairo, masa udah nerbitin buku, aku belum apa-apa ni…”, akhirnya si fulan ini terinspirasi dari temannya, setiap hari ada saja hal baru yang terjadi, belum lagi kajian ini, kajian itu, seminar ini, seminar itu. Kalau di Damascus nggak begitu, karena semua sama, semua merasa cukup dengan rutinitas sehari-hari, kuliah, masjid, talaqqi! kuliah, masjid, imigrasi! kuliah, talaqqi dan KBRI! Nggak ada hal berarti yang terjadi, mau nggak mau mahasiswa Damascus harus mengakui kekurangan itu! Untung aku diajarkan berorganisasi dulu waktu di Gontor, kalau nggak sampai sekarang aku tidak tau organisasi!
Jumlah mahsiswi di Cairo cukup banyak, aku tidak tau persisnya berapa persen, tapi aku banyak melihat mahasiswi berkeliaran. Seperti ku katakan tadi, waktu di pondok sama-sama terkurung, nggak aneh kalau ketika di luar mereka kenalan, dan bersayang-sayangan, aku kira itu normal dan manusiawi meskipun melanggar hokum! Di damascus, mahasiswi cuma 4% dari jumlah keseluruhan pelajar, itupun sangat tertutup, susah diakses, boro-boro mau sayang-sayangan!
Organisasi menjamur di Cairo, kalau kamu mau peduli sama organisasi-organisasi itu, aku yakin waktumu akan terhabiskan untuk itu saja, bisa-bisa 24 jam kamu wira-wiri dengan map di tangan! Aku suka berorganisasi, dan itu harus, biar kita menjadi manusia sosial, tau cara bergaual, tau cara bekerja sama, dan yang paling penting “bisa bekerja bersama orang yang kamu sukai dan orang kamu benci”. Di Damascus cuma ada PPI dan PCI-NU, itupun muka-muka yang sama kamu temukan di PPI dan PCI.
Aku kira plus minus yang ku perhatikan yang ada di dua kota santri itu, sama sekali tidak mengurangi haibah, kebesaran, dan harapan yang ada di setiap kota itu. Karena apa yang ku anggap masalah, mungkin bagi orang lain adalah solusi, atau apa yang menurutku kekurangan, tapi bisa jadi menurut orang lain itulah sebuah kelebihan. Semuanya tergantung pada diri kita sendiri, dimanapun kakimu berpijak, jangan lupa apa tujuan kamu berpijak disitu!


                  Hari ke 5, masih di rumah Sayyid. Malamnya pulang dari ngasob jam 1 malam, aku nggak bisa tidur, panas. Untung siangnya aku sempat ngedonlod 2 film Shahrukh Khan sama Aamer Khan, akhirnya mereka yang menemaniku sampai pagi. Padahal, besok paginya ada janji sama ust Hamid dan ust Adnin, mau ketemuan. Memang enak di Cairo, mau apa saja ada, nggak percaya? Just have a trial!
Paginya terpaksa harus melawan ngantuk, cuci muka, jalan ke gamajatim, dimana ust hamid tinggal. Kita kesana mau ngasih kenang-kenangan dari IKPM Damascus. Memang kalau duduk sama orang pinter kayak mereka, waktu nggak terasa. 2 jam lewat begitu saja. 4 miskol dari sayyid “tercuekin” begitu saja. Dia juga nggak tidur malam, makanya miskol-miskol terus, ngajak pulang.
Ustad adnin, selaku pemred MG banyak bercerita tentang perkembangan intelektual di indonesia, salah satunya tentang sistem pendidikan. Menanggapi proyek MG tentang “muslim intelek”, aku berbagi cerita tentang konsep “masjid sebagai sentral” yang diterapkan oleh ulama-ulama di damascus sejak setengah abad lalu. Dengan sistem ini, kita berharap jurang pemisah antara ilmu agama dan ilmu umum akan hilang, dan pembagian ilmu agama dan ilmu umum yang merupakan ide yang dicetuskan oleh penjajah untuk menina bobokan kita sama sekali tidak pernah ada dalam islam. Islam membagi ilmu berdasarkan penerapannya menjadi ilmu fardhu ain dan ilmu fardhu kifayah, bukan ilmu agama dan ilmu umum, yang pasti keduanya fardhu, dan pembagian ini bersifat ijtihadi, artinya bisa berubah berdasarkan ruang dan waktu.
Konsep “masjid sebagai sentral” adalah sebuah usaha untuk menciptakan “muslim yang intelek, bukan intelek yang tau agama”. Ide itu sudah diusung oleh kyai imam zarkasyi 85 tahun lalu. Konsep ini, termasuk berhasil diterapkan oleh ulama-ulama di damascus. Sebut saja contohnya, dosen hadis dan tasawwuf di fakultasku, Dr.drg. Khair Syaa’al, beliau seorang dokter gigi lulusan fakultas kedokteran gigi universitas damascus, tapi juga beliau seorang doktor dalam bidang hadis dari universitas ummu durman cabang damascus. Contoh lain dr. Mahmod Barsya, dosen fiqh jinai, selain pakar fiqh, beliau juga seorang dokter spesialis jantung dari salah satu universitas di amerika serikat. Ada lainnya, meskipun beliau sudah tidak ada lagi, tapi namanya masih harum, sebagai pakar ilmu akhirat dan ilmu dunia, seperti syeikh mustafa zarqa, syeikh abdurrahman zainal abidin, dan lain-lain.
Dengan cara ini, orang-orang yang belajar dengan “money-oriented”, tidak akan merasa bahwa masa depannya suram dengan belajar agama, karena prospek pelajar agama kurang besar bargainingnya, udah belajar capek, lama, ujung-ujungnya Cuma jadi penceramah dan guru ngaji! Tapi dengan sistem ini, masjid dijadikan sentral belajar agama, para ustad dan kyai-kyai turun ke masjid untuk mengajari agama, sedangkan ilmu umum dipelajari anak-anak itu di sekolah. Akhirnya, anak-anak yang hidup di masjid itu akan menjadi generasi muslim intelek. Aku mau memaparkan konsep ini lebih detail dan teknis pelaksanaannya, tapi nggak mungkin pada notes yang singkat ini.
Jam 1 siang aku dijemput mukhlis, aku jalan ke hay sadis sama dia. Katanya ada teman-teman dari almamater ulumuddin pengen duduk cerita-cerita, silaturahim, sambil makan bakso.
Benarlah, 20 menit kemudian aku sudah di hay sadis, ketemu teman-teman lama, ada bang ridwan, bang zul, agus keuchik ulee kareng, azmi, zamzami, muhajir, ismail. Rasanya kembali ke 10 tahun lalu. Bang ridwan, udah lama banget nggak ketemu, ku kira dia udah berubah, ternyata belum, masih seperti bang ridwan yang dulu,lucu, banyak cerita, tawadhu, dan pastinya pinter.
Ada satu lagi yang belum datang, katanya syeikh besar, namanya Muniruddin. Yap, ini nama pernah 3 tahun sekelas denganku. Ini sosok yang idealis, kalau sudah bilang “tidak”, apapun yang terjadi tetap “tidak”. Aku belum bisa membayangkan bagaimana bentuk dan penampilannya setelah 10 tahun tidak bertemu.
Beberapa menit kemudian, bel berbunyi, ternyata di balik pintu sudah berdiri muniruddin, sosok yang selama ini membuatku penasaran. Dulu dia fans berat sama osama bin laden, sampai kemana-mana dia pakai sorban gaya bin laden, pokoknya bin laden itu idolanya. Muniruddin ini punya kemampuan luar biasa, telenta yang jarang dimiliki teman-temanku yang lain. Kalau memuji dia, nggak akan habisnya, jadi mending kamu kenalan sendiri deh sama dia. Yang pasti dia bukan teroris!
Awalnya kita cerita tentang kejadian-kejadian lama yang sama-sama kita alami, sudah dan senang. Tapi aku senang dengan sikap mereka, kalau beberapa tahun lalu aku duduk sama teman-teman begini, pasti cerita tentang pemberontakan dan perjuangan ingin merdeka dari indonesia, sekaligus menyekat “selain aceh, jawa semua”. Tapi sekarang sudah berbeda, sekatannya menjadi “selama kita punya rukun iman dan rukun islam yang sama, kita tetap saudara”.
Perbincangan hangat itu tidak hanya tentang perkembangan pendidikan kita masing-masing, tetapi juga sudah merambah ke pendidikan di aceh, memetakan permasalahan,dan mencari problem solving, meskipun cuma perbincangan biasa, tapi kau bisa menangkap bahwa selama ini banyak ide-ide kreatif dan inovatif yang ada dalam kepala dan benak anak-anak bangsa, namum mereka belum menemukan media dan lahan untuk implementasi ide-ide itu. Makanya, kalau punya ide apapun, jangan pernha ragu untuk mengungkapkan, aku kira kita banyak memiliki kesamaan ide, tapi tidak terungkap, karena kita mengira ide kita itu basi, tidka mungkin diterapkan, ataupun dengan alasan lain, akhirnya ide-ide cemerlang itu hilang bersama hilangnya pemilik ide, mending kalau idenya ditulis, mungkin besok ada orang yang membacanya, tapi kalau cuma dalam kepala, betapa sangat disayangkan.
Ala fikrah, si munir sahabatku ini sekarang aktif di jamaah tabligh, jamaah yang mungkin agak berkonotasi “negatif” di telingaku. Tidak jarang teman-teman sharing sama aku tentang jamaah tabligh, yang nota benenya “pengikut sunnah rasul 100%” dalm kehidupan mereka. Dia sering khuruj, tahun kemarin sempat khuruj ke Jordan. Banyak orang mengeluh dengan jamaah ini, gaya hidup mereka, dan bahkan fiqh prioritas yang sama sekali tidka digubris oleh mereka.
Aku tidak tau hakekat jamaah itu seperti apa, tapi ketika aku bertemu dengan sahabta lamaku muniruddin, memang benar-benar dia bisa memberiku cahaya sebenarnya tentang jamaah itu. Ternyata apa yang dia lakukan selama ini, beda dengan apa yang sering kudengar dan bahkan kulihat sendiri di tanah air. Aku berdoa semoga sahabtku ini, benar-benar bisa menjadi menara dakwah dan ilmu pengetahuan kelak di aceh ketika dia kembali. Aku yakin dengan niat, himmah, dan hati bening seperti munir itu, perubahan akan segera terjadi. La uzakki alallahi ahad!
Sayangnya, pertemuan indah itu tidak bisa lama, karena munir dan bang ridwan juga lagi ujian, akhirnya pertemuan indah itu berakhir setelah kita salat magrib di masjid dekat hay sadis. Jam 22.00 aku harus pulang, karena jam 00.00 kita akan berangkat ke alexandria.


            Awalnya kita rencana berangkat jam 12 malam, biar sampai ke Alexandria sebelum subuh, tapi nggak jadi. Akhirnya setelah subuh kita jalan, tepat jam 6.15. Kita menyewa sebuah mobil, supirnya adik kelasku di pondok dulu, namanya imam Turmuzi, satu lagi aku lupa-lupa ingat, tapi anak-anak memanggilnya Jack, paling namanya Zaki atau Zakaria.
            Perjalanan dari Cairo ke Alex katanya antara 3 sampai 4 jam, tergantung keadaan jalan, macet atau macet banget. Beberapa saat setelah meninggalkan kota, aku melewati sungai Nil, sungai raksasa yang melintasi benua Afrika. Sungai Nil benar-benar anugerah bagi penduduk benua hitam itu, daerah disekitar sungai itu sangat subur, aku melihat kebun-kebun pisang, kebun-kebun mangga, rumput hijau, dan suasana tropis lainnya. Pemandangan yang tidak kusangka akan ku lihat di Afrika. Katanya mangga di Mesir itu dibawa oleh Presiden Sukarno, pada sebuah kunjungan beliau waktu Gamal Abdul Naser masih berkuasa.
            Pagi-pagi memang nggak terlalu macet, karena aktivitas baru padat mulai jam 9, hampir semua Negara Arab begitu. Kantor-kantor baru buka jam 9-an, habis subuh kayaknya mereka tidur lagi, jam 8 bangun, mandi baru ngantor atau ke tempat kerja masing-masing. Ada lelucon kata temanku, itu sebabnya Negara Arab tidak pernah menang melawan Israel, seharusnya mereka bangun dan menyerang Israel jam 6 pagi, maka Israel dijamin hancur, karena jam segitu orang Israel juga masih tidur! Benar kata seorang dokter Mesir, pengarang buku “Dahsyatnya Salat Subuh”, kata orang Israel, “Kami baru takut sama umat Islam, apabila jamaah subuh mereka sama dengan jumlah jamaah Jumat!”. Kalau mereka bisa mengatakan demikian, berarti lelucon tadi salah, Israel bangun sebelum subuh, mengintip masjid-masjid dan rumah-rumah, ternyata lampunya masih padam, dan di masjid ada beberapa orang tua yang sudah bau tanah yang berzikir dan melaksanakan subuh berjamaah!
            Dulu itu, sebelum zionis Israel menduduki tanah Palestina, Palestina itu cuma gurun dan bongkahan batu raksasa yang tidak memiliki emas dan minyak bumi seperti Arab Saudi dan Negara Teluk lain. Tapi hari ini, kalau kamu melihat Tel Aviv atau Haifa, kamu tidak percaya kalau kota itu letaknya di tanah Palestina, kamu akan mengira itu adalah salah satu kota di Swedia atau Denmark! Melihat keadaan orang Arab hari ini, bisa kamu banyangkan tanah Palestina itu tetap begitu kalau tidak dijajah oleh Israel. Aku nggak membela Israel, tapi dari mereka kita bisa belajar kerja keras, kedisiplinan, dan ketekunan. Aku juga tidak bermaksud mengatakan Israel itu tentram, aman, dan adem, bahkan penghuninya lebih deg-degan daripada penghuni daerah di salah satu provinsi di Zimbabwe, karena setiap detik bisa saja mereka diserang oleh tentara dan Mujahidin Palestina, Suriah, Iran atau Hizbullah! Yang ingin kita teladani dari mereka cuma ketekunan, kedisiplinan dan kerja keras, itu saja. Semoga kita bisa mengamalkan motto yang diajarkan oleh amirul mukminin Umar bin Khattab, “Berbuatlah untuk duniamu, seakan-akan kamu tidak akan mati, dan berbuatlah untuk akhiratmu, seakan-akan kamu mati besok hari”.
            Jam 8.36 aku sampai di pintu gerbang kota Alexandria, tulisan Yunani kuno terpampang besar, mengatakan selamat datang di Alexandria. Kota itu katanya dibangun oleh Alexander the Great, dan sebelum Cairo menjadi ibukota Egypt, Alexandrialah ibukotanya.
            Tahun kemaren, pas liburan musim panas, aku diajak Khider ke rumah dia, Khider itu temanku di kampus, dia anak Mufti Macedonia, beliau dulunya juga kuliah di universitas Damascus. Aku sering bertanya tentang Alexander Agung itu, kalau di Arab Alexander itu sering disebut Iskandar Macedoni. Dia memberiku sebuah potonya di depan patung Alexander di pusat kota Skopje. Tapi, sayang aku tidak bisa memenuhi ajaknnya.
            Sejak kecil, idolaku adalah Hercules, sejak itu cita-citaku ingin mengunjungi Greek, kini hampir kesampaian, Greek tidak terlalu jauh dari Suriah. Waktu kelas 2 SMP aku baca buku “Membumikan al-Quran”, aku jadi tertarik dengan tokoh Zulqarnain dalam surat al Kahfi, salah satu penasfsiran terdekat tentang tokoh Zulqarnain itu adalah Alexander the Great, sejak itu aku mulai tertarik dengan tokoh itu, dan sering kali kubaca tafsir-tafsir tentang Zulqarnain, meskipun banyak yang meragukan itu, tapi aku selalu “mengiyakan”, Zulqarnain itu adalah Alexander. Saat itu aku sempat  bercita-cita menjadi ahli tafsir, sampai suatu hari aku membeli sebuah buku tentang Ilmu Tafsir, ketika kulihat syarat-syarat menjadi mufassir ada 13, seperti yang disebut dalam Itqan, aku jadi putus asa dengan cita-cita yang muluk-muluk itu, tapi tidak menyurutkan kemauanku untuk membuktikan bahwa Zulqarnain itu adalah Alexander dari Macedonia. Kayaknya karena keseringan membaca Iliad karya Homer itu,makanya  banyak tokoh-tokoh dalam mitos Yunani nempel di otakku, termasuk Achilles.
            Hari ini, aku belum bisa menginjakkan kakiku di Macedonia, tapi aku senang bisa mengunjungi tempat yang dulu pernah disingggahi idolaku. Kota Alexandria memang keren, rasanya aku kayak di luar negeri, bukan lagi di Mesir. Kotanya rapi, bersih, teratur, pokoknya enak.
            Di Alexandria aku mengunjungi benteng Qitbay di pinggir Laut Tengah, kemudian ke Perpustakaan Nasional Alexandria, kayaknya lebih cocok disebut Museum daripada Perpustakaan, tempat yang luar biasa. Kalau kamu suka jalan-jalan, pastikan Egypt termasuk dalam list of must visit country, dan Alexandria pastinya jangan terlewatkan.
            Sorenya menikmati sunset, seperti Alexander dulu pernah menikmatinya di pantai Taut Tengah, katakan saja itu tempat “maghrib syamsi”. Sambil menikmati jagung bakar, aku menghabiskan sore sebelum saatnya pulang ke Cairo.
            Jam 12.19 aku tiba di Cairo, kulit rasanya lengket semua, lapar, akhirnya ke suuq sayyarat, ngasob dulu, baru pesan makan. Maunya makan enak karena udah lapar banget, ternyata yang ada cuma nasi kusari,entah siapa penemu itu makanan, rasanya nggak karuan, ampun deh…itu yang pertama dan terkahir aku makan nasi kusari, taubaaaat!!!
            Sayyid jagoan kita, ada juga di situ, lagi sibuk nyari mobil dan supir buat besok, hari terakhir di Cairo, ziarah Piramid dan makam-makam sama took buku.

                ini hari ke enam aku di cairo, hari ini aku sudah pindah ke rumahnya Fuad, tidak lagi di rumah sayyid. resiko jadi turis Romli (rombongan liar) ya begitu, nomaden di negeri orang. untuk banyak teman yang bisa disilaturahimi, jadi aman-aman saja, biarpun agak romli. malam kecapean pulang dari alexandria, jadi tidurnya nyenyak banget.
                hari ini jumat, rencananya mau jumatan di masjid azhar, tapi nggak jadi, karena jadwal ke piramid di giza jam 10 pagi. sayyid bosnya, dia udah dapat dua mobil dan 2 supir, lagi-lagi si kemas yang jadi supir, memang kawanku yang satu ini supir sejati dan setia menemani kemana saja.
                jam 9 mobilnya sudah di depan flat si fuad, aku sudha siap, sudah rapi tinggal berangkat. seperti biasa, Yusron masih belum mandi, udah terlambat, ditunggu sama teman-teman di bawah, tapi dia sempat-sempatnya ngupdate status FB!cckckckck....akhirnya kita jalan, perjalanan dari bawabah 2 ke giza mungkin akan ditempuh 1 sampai 1 setengah jam, tergantung keadaan, macet atau macet banget!
                satu jam kemudian aku sudah melihat puncak piramid, memang megah banget bangunan itu, berdiri tegak penuh wibawa. dan beberapa menit kemudian, piramid raksasa itu sudah menyambutku, aku tidak menyangka juga kalau aku bisa berdiri di depan bongkahan batu raksasa itu. selama ini aku hanya melihat "piknik menjelajahi piramid" bersama Dr. Zahi Hawas di National Geographic. kata beliau, piramid itu adalah kuburan untuk raja-raja mesir kuno.
                setelah berdiri di depan piramid itu, aku melihat susunan batunya, bagaimana batu itu teratur satu persatu, dan di dalam piramid raksasa itu ada ruangan yang tembus ke sisi-sisi piramid itu, saat pembuatannya banyak memakan korban jiwa. sekarang ada 3 piramid besar yang masih berdiri kokoh di sana, sedangkan yang kecil-kecil di sekitar itu sudah hancur.
                aku tidak masuk ke dalam ruangan yang ada dalam piramid itu, aku sudah melihat setiap sudut piramid itu bersama Dr. Hawas, tempatnya pengap, gelap, dan menakutkan, tapi sekarang sudah ada lampu yang menghiasi ruangan-ruangan kecil itu. sampai Dr. Hawas sendiri belum berhasil memasuki seluruh compartment yang ada dalam piramid itu, karena memang ada ruangan-ruangan kecil yang tidak bisa dimasuki oleh manusia, mungkin karena terlalu kecil, tapi kita tidka tahu apakah dibalik terowongan kecil itu ada compartment lain yang tersembunyi, sekarang sedang dalam penelitian Dr. Hawas.
                aku sendiri bertanya-tanya, masa tempat sebesar itu dibuat untuk kuburan doang? pasti ada rahasia lain kenapa piramid itu dibuat, selain untuk kuburan. dan kenapa tempatnya di situ? kenapa tidak di Luxor?pusatnya kerajaan Firaun. kenapa tidka di alexandria? kota indah di pesisir pantai laut tengah. atau Cairo?
                ketika memasuki komplek piramid, cuaca tidak terlalu panas, padahal aku di sana jam 1 habis jumatan, musim panas lagi, tapi udaranya segar, adem, tidak terlalu terasa panas seperti di luar itu, entah ada kekuatan apa di situ? mungkin juga itu sebabnya kenapa mereka memilih membangun piramid di situ. yang pasti, kamu akan merasa berbeda rasanya ketika di luar jauh dari piramid dengan saat kamu berada sekitar piramid. aku tidak bermaksud sekitar itu di sampingnya, dalam jarak semeter atau dua meter, tapi dalam radius 100 sampai 300 meter.nggak percaya, silahkan apply visa ke egypt embassy dan beli tiket egypt air.
                belum lagi batu-batu raksasa itu, bagaimana mereka menumpuknya? padahal satu batu berukuran 1 meter! itu batu 1 meter, bukan gabus, ya! bayangkan di dalam piramid itu juga ada ruangan-ruangan, ada ruangan makam di pusatnya itu, dalam, pengap, dulu belum ada listrik, bagaimana mereka membuatnya? arsitektur piramid itu menjadi saksi betapa majunya peradaban bangsa mesir pada zaman itu, ribuan tahun lalu.
                jam 2 kita menuju kota cairo lagi, kita mengunjungi makan imam syafii, dan di sampingnya juga ada makam syeikhul islam zakaria al anshary, setelah mendoakan mereka, kita meneruskan perjalanan menuju khan khalili, kayak pasar rakyat di damascus, pasar hamidiyeh. sebelumnya, mampir dulu di masjid Azhar, sholat ashar. meskipun aku tidak sempat menuntut ilmu di masjid azhar, tapi sudah "mengunjungi" kamar mandinya dan sholat di dalam masjidnya.
                ke khan khalili beli oleh-oleh, di sekitar itu juga banyak toko buku, shoping buku, mau shopping yang lain nggak tau mau beli apa, semuanya ada di hamidiyeh. mau beli oleh-oleh buat teman-teman di damascus juga nggak tau, karena semuanya ada di damascus, kecuali satu, meskipun ada tapi mahal, yaudah aku beli hagar beberapa gram, "biar kecil, tapi bermanfaat besar".
                malamnya aku ada janji, ini malam terakhir, janji banyak banget nggak mungkin semua terpenuhi, makanya ada janji-janji yang tidak kutulis disini, karena memang rahasia. malamnya aku duduk ngasob untuk terakhir kali bersama Mukhlis, sambil menunggu ketua KMA, Tgk Yasin.
                beberapa menit kemudian Tgk Yasin datang, aku tidak kenal sebelumnya. kita langsung akrab setelah beliau mengenalkan diri, namanya Muhammad Yasin Jumadi (meuah beurayeuk that  Tgk kalau salah namanya,ehhehehe), alumni Ruhul Islam Aceh Besar. beliau aktivis KMA kata Mukhlis, selain itu juga termasuk dalam dewan redaksi majalah Sinai. Insyallah nanti kalau pulang bisa memberikan kontribusi yang solutif buat Aceh.
                kita berbincang panjang lebar, sekali lagi perbincangan itu tidak bisa aku laporkan disini, karena bersifat secret "dokumen negara". aku banyak belajar dari Tgk Yasin meskipun cuma duduk 1 setengah jam, banyak hal yang kupelajari, meskipun dia tidka menyadari, terima kasih Tgk.
                jam 11.35 hapeku teriak, awalnya aku cuekin, tapi karena sudah berkali-kali dia teriak, akhirnya kuangkat juga, ternyata di seberang sana ada orang lagi marah-marah, karena janji sama dia belum terlaksanakan, dengan terpaksa aku minta izin dari Tgk Yasin dan pergi menuju orang yang lagi marah-marah itu ditemani Mukhlis, dalam setengah jam setelah aku meninggalkan tempat ngasob, banyak terjadi hal-hal konyol pada kami berdua, yang tidak mungkin kusebut disini.
                jam 1 aku tiba di rumah fuad, harus istirahat, karena besok pagi harus melanjutkan perjalanan menuju damscus, alias pulang kampung.


               Malam terakhir di Cairo aku tidak bisa tidur nyenyak, seperti ada yang terganjal di hati, tapi karena kecapekan, aku paksa tidur, dan akhirnya emang tidur. subuh bangun, sholat, packing semua barang, titipan, pakaian udah dimana-mana, akhirnya sejam kemudian semua beres.                Sejak 6 tahun aku tidak pernah makan kuah plik masakan nenekku, makanan khas Aceh, tapi tak ku sangka aku makan kuah plik di Cairo, meskipun bukan buatan nenekku, tapi tetap saja enak. ya daun singkong katanya diganti sama daun jarjir, tapi ok juga itu rasanya.
                Tepat seminggu aku di Cairo, dari jumat malam 22 juli sampai sabtu pagi 30 juli. tadi malam aku pengen ketemu teman lamaku, udah hampir 8 tahun nggak ketemu, namanya Geys, tapi karena kebanyakan janji, akhirnya nggak sempat ketemu dia, maunya pagi-pagi kau samperin dia, tapi sayangnya hanya bisa nelpon. dia masih Geys yang dulu yang pernah sekamar di asrama GBK denganku, nothing change.
                Jam 10 aku harus ke airport, udah ditunggu sama Sayyid, Fuad, Jamil dan Kemas. Geys minjemin mobilnya untuk nganterin kita ke airport. Sayyid dan Jamil nggak bisa ikut, akhirnya cuma Kemas sama Fuad saja yang ikut ke airport. 20 menit kemudian aku sudah di airport, Cairo International Airport. sampai disana, ternyata penerbangan Cairo-Damascus delayed 45 menit.
                Evi, aku dan Yusron jalan berbarengan, kita masuk pintu pertama, pemeriksaan pasport. aku tidak terlalu paham bahasa amiayyah Mesir, jauh berbeda dengan bahasa amiyyah Syria. pokoknya hampir 80 persen apa yang mereka katakan aku tidak mengerti. Evi dan Yusron sudah lewat, aku masih menunggu, pasporku ditahan. berkali-kali petugas itu menelpon, tapi aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. setelah 15 menit aku menunggu, akhirnya datang seorang polisi mengambil pasporku dan membawaku ke sebuah ruangan.
                Dalam perjalanan ke ruangan itu dia berbicara padaku, aku sama sekali tidak paham, pengen rasanya aku menulis percakapan itu dengan petikan kata-kata dia langsung, biar lebih terasa suasananya. setelah beberapa kali dia bertanya aku hanya "naám" saja, akhirnya dia tau aku bukan mahasiswa di Cairo, terpaksa dia bicara dengan bahasa fusha, kali ini aku baru paham. dia tanya nagapain aku ke Cairo, tinggal dimana dan seterusnya.
                2 menit kemudian aku sampai di ruangan polisi, custom-house security. dia mengisayaratkan aku duduk disitu menunggu dia keluar, dia masuk ke ruangan lain, dhabit matar. sebelum aku masuk, Yusron sempat memberiku hapenya, hapeku sudah habis batrenya, kalau ada apa-apa aku bisa hubungi mereka. 5 menit lewat, 10 menit berlalu...aku mulai keringetan, tidak tenang, semua kemungkinan terburuk sudah masuk dalam pikiranku. mulai dari introgasi sampai penjara bawah tanah terbesit di benakku. semua jenis introgasi di film Kurtlar Vadisi terbayang di kepalaku.
                20 menit, 30 menit lewat, tidak ada apa-apa, nggak disuruh apa-apa, hanya bebarapa kali aku lihat pasporku bolak-balik keluar masuk ruangan itu di tangan yang berbeda. aku mulai membuka hape, kutelpon Evi, aku hanya mendengar, arraqm al matlub mughlaq, ku telpon Sayyid, nggak diangkat, kutelpon Fuad, malah nggak aktif nomornya. wallah....aku mulai keringetan, pikiran nggak karuan.
                Akhirnya aku duduk, menikmati setiap jengkal ruangan itu, aku hanya berzikir dan membaca fatehah berulang-ulang, duduk rapi, sopan, sok cool, seakan-akan aku tenang, nggak mencurigakan. setiap polisi yang masuk ruangan itu, pasti menatapku kayak mau dimakan saja, aku hanya diam, berzikir dan baca fatehah. waktu seakan berhenti saat itu, kalaupun dia berjalan, perjalanannya lambat sekali.
                Kalaupun aku dilepas sejam lagi, pesawat pasti sudah take off, aku harus pulang ke Cairo lagi, ngumpulin tauzi ramadhan biar bisa beli tiket ke Damascus lagi. apes nasibku hari itu, hari pertama sampai hari ke tujuh sebelum jam 11, aku menikmati keindahan dan kenyamanan yang ditawarkan Cairo, having fun, tapi kenapa ujungnya bikin keringatan begini? kayaknya mau suúl khatimah di Mesir, sad ending, itu yang aku pikirkan.
                Setelah 40 menit aku disitu, datang polisi yang tadi, dia memberikan pasporku. saat itu aku tanya, apa salahku, kenapa sampai ditahan, kata dia namaku kayak nama teroris yang sedang dicari pemerintah Turky, karena namaku cuma sepotong, Saiefannur, nggak ada bin-nya atau tambahan lain. anehlah, apa urusannya aku dengan teroris Turky! Teroris, terong diiris-iris kali! kalau Saief Alemdar mungkin saja disangka teroris, karena ada Polat Alemdar di Turky, mantan Kepala TAJ (Keamanan Sosial Politik, setara dengan badan Intelijen), yang terlibat penyerangan ke Pangakalan Militer Amerika di Istambul.
                Waktu dia memberikan pasporku, dia mengatakan sesuatu, aku nggak paham, yang aku tangkap cuma kata-kata "hilwa", itu kata-kata yang sering ku dengar di imigrasi Baramkeh Damascus. ini pasti minta uang, pikirku. akhirnya kukeluarkan sisa 20 pound di dompetku, lainnya uang dolar dan lira. dia ambil, terus aku diantarkan ke gate 3, seperti yang tertulis di tiketku. kayaknya dia masih belum puas dengan 20 pound, aku bilang aku cuma punya lira, lira nggak laku di Mesir, sampai di money changer saja nggak diterima!dia bilang nggak apa-apa,aku kasih dia beberapa lira.Arab….dimana-mana sama!
                Plong rasanya, ternyata kenikmatan yang kudapatkan setelah 45 menit tersiksa di ruangan polisi, jauh lebih indah, itu juga hikmah dari pesawat di-delayed 45 menit, sebut saja aku menghabiskan waktu 45 menit di kantor polisi. sedangkan Yusron sama Evi.....menghabiskan 45 menit di corrner cafe, makan pizza, minum jus, foto-foto, aku lagi sengsara, mereka “sempat-sempatnya” menikmati pizza!nying-nying emang!tapi, alhamdulillah, happy ending.
                Waktu berangkat seminggu yang lalu, kita bertiga duduk satu tempat, kali ini kita terpisah, kita beda seat. aku tidak tau Yusron sama Evi duduk dengan siapa, tapi pastinya aku duduk dengan seorang ibu, namanya Jersey, dari Melbourne. perjalanan kita sama, ke Damascus. kalau dia nanti akan tinggal di four season dekat jisr rais, aku langsung lewat lagi menuju gunung Qasiun. dia banyak bercerita selama perjalan dari Cairo ke Damascus, tukar-tukar cerita tentang pengalaman di Mesir dan Damascus, katanya ini kunjungan dia ke 4 ke Damascus, jadi dia sudah tau banyak tentang kota cinta itu.
                1 jam 56 menit, pesawat landing di Damascus international airport. disana Aya sama Fahroni sudah menunggu. ahlen fik bi Dimasyq.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar